Minggu, 24 Maret 2013

BANTUAN GUBERNUR JABAR 2013 UNTUK MADRASAH


Bantuan Rehabilitasi dan Ruang Kelas Baru untuk MIS, MTs dan MAS dari Gubernur Jawa Barat Tahun 20013.

Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat di Hotel Khatulistiwa Sumedang tanggal 19 Maret 2013, di informasikan bahwa Gubernur Jawa Barat akan memberikan bantuan kepada Sekolah dan Madrasah se Jawa barat dengan cara mengajukan Proposal permohonan bantuan yang di invertarisir di kantor Kemenag Kab.Bogor untuk di usulkan ke Dinas Pendidikan Prov.Jabar selambat-lambatnya tanggal 15 April 2013 di Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kab.Bogor.

A. Persyaratan Pembuatan Proposal  Rehabilitasi Ruang Kelas MI dan MTs
1. Surat permohonan kepada Bapak Gubernur Jawa Barat
        Cq.Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Bandung dengan tembusan ke Kanwil Kemanag   Prov.Jabar dan Kantor Kemenag Kab.Bogor.
2. Profil Madrasah
3. Foto copy NSM
4. Foto copy piagam akreditasi
5. Foto Copy NPWP lembaga
6. Foto copy SK Kepala Madrasah dan Bendahara
7. Foto copy KTP Kepala Madrasah dan Bendahara
8. Foto copy bukti kepemilikan tanah (akte  atau surat pernyatan hak guna pakai dll)
9. Foto bangunan yang akan di rehab dengan ketentuan atau yang harus ditampilkan
a. Photo Plang Madrasah (wajib)
b. Photo madrasah secara keseluruhan
c. Photo ruang kelas yang akan direhab antara lain dinding, plapon, lantai ruang kelas yang akan direhab
d. Dan photo yang menampilkan keruksakan
e. Photo dalam bentuk  warna (bukan foto copy)
10. Foto copy buku rekening
11. Proposal dibuat 2 rangakap (asli bukan foto copy)


B. Persyaratan Pembuatan Proposal Pembangunan Ruang Kelas Baru MI, MTs dan MA
1. Surat permohonan kepada Bapak Gubernur Jawa Barat
  Cq.Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Bandung
2. Profil Madrasah
3. Foto copy NSM
4. Foto copy piagam akreditasi
5. Foto Copy NPWP lembaga
6. Foto copy SK Kepala Madrasah dan Bendahara
7. Foto copy KTP Kepala Madrasah dan Bendahara
8. Foto copy bukti kepemilikan tanah (akte  atau surat pernyatan hak guna pakai dll)
9. Foto lahan/tanah kosong dalam bentuk warna (bukan foto copy) yang akan di bangun ruang kelas baru (RKB)
10. Foto copy buku rekening
11. Proposal dibuat rangkap 2 (asli bukan foto copy)

Demikian, kepada madrasah yang berminat untuk mengikuti program Bantuan Gubernur ini, disilahkan untuk mengirimkan proposal ke seksi Pendidikan Madrasah paling lambat pada 15 April 2013, dan atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih
 Sumber_http://mapendakabbogor.blogspot.com


Minggu, 17 Maret 2013

INFO UJIAN 2013

MI Arrasyid 01 kelas 1-5 dan MTs Arrasyid I kelas 7-8 harus diliburkan, karena jadwal TO MI & MTs (18 - 20 Maret), UAMBN MTs (21 - 23 Maret), UAMBN MI (25 - 27 Maret), UM/US MI (27 Maret - 1 April) dan UM/US MTs (28 Maret - 3 April 2013)
Bagi yang libur jangan lupa untuk belajar dirumah, kerjakan semua tugas sekolah dan jangan terlena.

Kamis, 14 Maret 2013

13 MACAM PENYAKIT GURU


image

13 MACAM PENYAKIT GURU

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.
Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.
Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputiTHT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.
Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.
Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas.
Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah “….usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Kata “mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran” jelas merujuk dan menuntut para guru untuk kreatif dalam mengembangkan kerangka berpikir dan bahan ajar di sekolah. Karena itu sangat boleh jadi munculnya gejala penyakit seperti disinyalir di atas relevan dengan sistem pendidikan yang membelenggu akal untuk kreatif, terutama bentukan hierarki kurikulum yang rigid dan berorientasi semata pada dunia kerja.
Seorang pengembang masalah kreativitas di dunia pendidikan, Ken Robinson, mengatakan hampir dapat dipastikan seluruh sistem pendidikan di dunia menempatkan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Sains) sebagai acuan utama tingkat keunggulan sebuah sekolah. Semakin banyak anak yang memiliki kemampuan Matematika dan Sains, semakin prestisiuslah sekolah tersebut. Sebab itu, bidang studi ini memperoleh jam yang begitu tinggi di sekolah, termasuk di antaranya di Indonesia.
Sekolah kita tak memiliki laboratorium seni dan musik yang cukup, juga perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sastra yang memadai untuk menumbuhkan kreativitas anak untuk bergerak. Seluruh sekolah kita lebih banyak mengajarkan Matematika dan Sains yang hanya mengandalkan otak dan pikiran, tetapi tak memberi porsi yang cukup kepada anggota tubuh yang lain, seperti badan, tangan, dan kaki untuk bergerak. Berapa jam anak kita mengikuti pelajaran tari dan olahraga di sekolah dalam satu minggu, dan lebih banyak mana ketika anak-anak kita belajar Matematika dan Sains?
Kritik Ken Robinson sangat masuk akal sehingga dia mengatakan kebanyakan guru di sekolah saat ini menganggap bahwa badan, tangan, dan kaki mereka hanya sebagai alat transportasi kepala mereka yang penuh rumus dan terkadang membingungkan. Efek seperti ini dapat menjadikan seseorang mati rasa, antisosial, dan menjadi sangat arogan cara berpikir dan bertindaknya. Dalam rumus tak ditoleransi kesalahan. Padahal sebuah kesalahan, dalam teori belajar, merupakan awal dari sebuah kreativitas besar.
Semoga Artikel di atas memberikan pencerahan bagi kita semua
(Sumber: Lampung Post, 24 Mei 2011).

Minggu, 10 Maret 2013

KREASI UJIAN PRAKTEK KLS IX

 

 


LOMBA LINTAS LEMBAH LEMBUR KURING KE-IV

Keikut sertaan Gugus Depan 26.21-2622 Pangkalan MTs Arrasyid I dalam kegiatan lomba Lintas Lembah ke-IV tingkat SMP/MTs se- Jawa Barat yang dilaksanakan Ambalan Pangeran Diponegoro-RA Kartini SMA Darul Faizin pada hari Minggu tanggal 10 Maret 2013.